Pages

Kognitif dalam paradigma Internet of Things

Apa itu Kognitif (Cognitive)? Sebelum kita bergeser atau bergerak ke pemahaman kognitif, secara general kita perlu memahami pengertian Kognisi (Cognition) terlebih dahulu. Kognisi adalah sebuah pemahaman (secara mental) yang berkaitan dengan proses bagaimana seseorang memahami lingkungannya (dunia) dan bertindak serta melakukan respon terhadapnya. Dengan kata lain, kognisi adalah sebuah proses dan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan 'kesadaran' yang penuh. Berangkat dari pengertian kognisi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa kognitif adalah kemampuan otak dalam mengolah informasi, memecahkan masalah, melakukan observasi, menyusun dan merencanakan mekanisme dalam mempelajari dan menyimpulkan informasi yang didapat.

Kemampuan kognitif adalah keterampilan berbasis otak dan syaraf manusia dalam melaksanakan tugas dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Kemampuan kognitif memiliki keterkaitan dengan mekanisme bagaimana kita belajar, mengingat, memperhatikan, dan memecahkan masalah secara otomatis. Misalnya, untuk menjawab telepon, setiap otak manusia melibatkan persepsi (mendengar nada dering), pengambilan keputusan (menjawab atau tidak), keterampilan motorik (mengangkat dan menjawab), kemampuan bahasa (berbicara dan memahami bahasa), keterampilan sosial (menafsirkan nada suara dan berinteraksi dengan baik dengan manusia lain). Cukup familiar? Apakah kita pernah melakukan analisa tahap per-tahap untuk menjawab panggilan telepon? Atau kita melakukan otomasi dengan refleks mengangkat telepon yang sedang berdering, atau mengacuhkannya? Atau, mungkinkah otak kita memang melakukan analisa proses tanpa kita sadari, dan kemudian memberi perintah menjawab telepon atau tidak?

Pertanyaan selanjutnya adalah; adakah atau mampukah sebuah teknologi (sistem komputer) melakukan analisa dari setiap informasi dan data secara kognitif serta beraksi atau mengambil keputusan secara kognisi?

Jawabannya adalah BISA! 

Lalu, apa hubungannya dengan Iternet of Things (IoT)?

Sebelumnya kita kaji terlebih dahulu apa pengertian umum mengenai IoT. 

Margaret Rouse pernah menulis sebuah pengertian dan tulisan ringan di halaman techtarget mengenai IoT. Margaret Rouse mengatakan bahwa IoT merupakan sebuah sistem atau perangkat komputasi yang mampu membuat manusia, hewan, dan benda lain saling terhubung secara digital dan mampu saling bertukar data melalui jaringan (dengan sebuah alat pengenal/identifikasi sehingga semua dapat saling bertukar data tanpa bantuan manusia untuk meneruskan atau membantu proses pertukaran data tersebut). Kata jaringan di sini merupakan jaringan yang luas, yaitu Internet. 

Kita mampu berkomunikasi dan melihat secara langsung saudara kita yang ada di islandia melalui video call dari perangkat telepon genggam, tanpa perlu 'ribet' untuk memahami proses pertukaran data. Gadget kita sudah melakukan semuanya dengan satu syarat; terhubung ke Internet!

Google mampu mendeteksi tingkat kemacetan dengan cara memantau pergerakan semua perangkat dalam satu area dengan fasilitas map-nya. Tentu saja pertukaran data akan lancar, jika users (anda dan saya) mengizinkan google (melalui fasilitas map nya) untuk mengakses gps di perangkat kita. Plus, mengupload data ke mereka secara periodikal.

Dalam perspektif IoT, pentingnya analisa adalah karena perspektif akan apa yang hendak kita lakukan terhadap data dan informasi. Pentingnya analisis yang bersifat kognitif adalah, karena sistem harus dapat bekerja sesuai dengan tugasnya terhadap lingkungan sekitarnya.

Pernahkah anda merasakan lapar namun bingung harus melakukan apa terhadap makanan yang telah tersaji di hadapan anda? Jika pernah, maka otak yang anda miliki tidak mampu melakukan analisa dengan benar. 

Pernahkah anda 'diomeli' oleh orang tua anda ketika telepon berdering dan anda malah berdiri kebingungan? 

Atau, apa reaksi anda jika adik atau kakak anda buru-buru beranjak dari tempat duduk dan mengangkat telepon sambil berhalo-halo ria padahal telepon di rumah tidak berdering sama sekali?

Tiga kejadian seperti di atas adalah merupakan gambaran dari gagalnya sebuah sistem Analisa Kognitif. 

Jika anda merasa haus dan langsung mengambil air minum yang telah tersedia dan meminumnya, itu merupakan gambaran sederhana dari sebuah keberhasilan sistem Analisa Kognitif.

Adakah sebuah teknologi yang seperti itu?
Jawabannya adalah: "Ada"!

Mampukah sebuah sistem melakukan hal yang serupa?
Jawabannya adalah: "Mampu!"

Pertanyaan yang lain adalah: "Bagaimana dengan Big Data? Triliunan data yang tersebar di Internet?"

Well, saya sedang memikirkan kemampuan berfikir yang manusia miliki. Mampukah manusia menampung seribu pertanyaan dalam satu menit dan memilah mana pertanyaan yang berhubungan dengan 'apa yang harus dijawab' dan memutuskan untuk memberi jawaban yang tepat dalam tempo kurang dari dua detik?

0 komentar:

Posting Komentar